Home / Opini / Antara Nasionalisme, Peran dan Masa Depan Pemuda

Antara Nasionalisme, Peran dan Masa Depan Pemuda

Iwansyah, S.Kep

Iwansyah, S.Kep

SEPUTAR MAKASSAR–“Anak-anak itu bukanlah tak punya didikan. Tak pula tak pernah diajarkan budi pekerti. Bahkan orang tua mereka pun bermandikan peluh dan darah demi membesarkan dan menghidupi buah hati mereka.

Anak-anak itu hanya tak tahu apa arti budi dan apa itu menghargai Yang mereka tahu hanya bercengkerama, berkumpul, berkelahi, berhura-hura di bundaran-bundaran meja judi di sudut-sudut selintingan ganja bahkan membuat keributan di jalanan…

Mereka hanya belum sadar. Atau memang takkan pernah sadar tetap mengambang dalam hayalan tetap tidur dalam kesenangan semu, Sampai pada akhirnya jeruji besi jawabannya dan peluru panas solusinya, dan penyesalan di hari tua”

Masa depan generasi muda  diambang kehancuran. Bagaimana tidak, para penerus bangsa ini banyak terjerumus pemyalahgunaan narkotika, seks bebas dimana-mana, dan kejahatan lainnya.

Hal ini menjadi tantangan bagi masyarakat, termasuk para pemuka agama, orang tua dan terutama yang berperan penting adalah guru dan dosen untuk lebih mendorong remaja dengan penerapan sistem pendidikan yang mengutamakan  nilai budi pekerti dengan pendekatan utama yaitu aspek Afektif, kognitif dan psikomotorik.

Selama ini sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia menjadikan sentral utama sebagai  aspek kognitif dan menomorduakan aspek afektifnya sehingga kebanyakan perilaku dan sikap remaja lebih cenderung seperti perilaku orang barat yang lebih mementingkan nilai intelektualitas dari pada nilai moralitasnya.

Beberapa contoh perilaku yang menggambarkan hegemoni barat terhadap kaum muda di Indonesia dewasa ini seperti penampilan dan cara berpakaian, seks bebas, penggunaan narkotika dan lainnya. Ini semua karena aspek intelektualitas yang di utamakan dan mengesampingkan aspek afektifknya sehingga iman yang lemah dan pemahaman religi/ agama kurang.

Beberapa faktor lain diantaranya arus globalisasi, pengaruh teman atau kelompok sepermainan, pengaruh media massa menyebabkan pergaulan yang tidak terkontrol dengan baik.

Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik.

Bukankah Soekarno pernah berkata “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia,”. Begitu pentingnya peran para generasi muda sehingga diibaratkan 10 pemuda bisa mengguncang dunia yang luas ini, yang memberi inspirasi pada Soekarno untuk menguncangkan kemerdekaan republik ini adalah peran penting dan semangat anak muda untuk membantu memperjuangkan kemerdekaan indonesia.

Sejarah telah menorehkan tintanya, bahwa dalam setiap momen penting perubahan bangsa ini senantiasa melibatkan kaum muda sebagai lokomotif penggeraknya.

Peran pemuda dalam perubahan sosial bangsa bukannya sebuah isapan jempol. Dan sejarah telah membuktikan bahwa pemuda adalah ikon perubahan bangsa.

Ditangan para pemuda telah terbentuk laju sejarah dan dinamika perjuangan bangsa. Melalui pemuda bangsa ini mampu lahir, bangkit, berdiri dan berjalan menjadi bangsa yang berdaulat, dengan berbagai dinamikanya. Pemuda selalu menjadi katalisator perubahan tersebut.

Bencana akibat rusaknya moral dalam pergaulan bebas remaja kini sangat menyedihkan, dilingkungan sekitar kita korbannya adalah remaja belia, ini terbukti hasil liputan yang dilakukan oleh penulis di Makassar selama bergabung di dunia jurnalis.

Kebanyakan mereka yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Dalam pergaulan bebas ini mereka ikut-ikutan atau karena ajakan teman. Disinilah mereka memulai dari coba-coba hingga akhirnya kecanduan. Dari yang minum minuman keras, memakai narkoba hingga akhirnya sex bebas. Mereka tidak sadar masa depan mereka terancam.

Marak pula diberitakan di televisi, radio ataupun media cetak yang menggambarkan tentang remaja kena tangkap berpesta sabu-sabu/narkoba. Kasus pengeroyokan dan tawuran di kalangan anak SMP dan SMA. Bahkan yang lebih marak lagi adalah kasus seks bebas yang banyak dilakukan oleh remaja berumur 13 hingga 17 tahun ke atas.

Kita harus berkomitmen membangun generasi muda, menjadi calon pemimpin masa depan yang bijak dan ideal, yakni dengan cara terus mengajarkan perilaku nasionalisme.

Masa depan Indonesia ditentukan oleh para generasi muda karena merekalah masa depan Bangsa ini. Karena itu, setiap Generasi Muda Indonesia, dari yang masih berstatus pelajar, mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah sosok-sosok penting yang sangat diandalkan oleh Bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita dan juga mempertahankan kedaulatan Bangsa.

Penulis: Iwansyah (Mahasiswa Program Pasca Sarjana Jurusan Kesehatan Reproduksi-Mantan Jurnalis Koran Pedoman Makassar)

Editor: Ancha

SEPUTAR MAKASSAR MEMBUKA SELUAS-LUASNYA PERAN AKTIF ANDA DENGAN MENGIRIMKAN OPINI, IDE, ACARA/KEGIATAN dan Ucapan juga Tanggapan. KIRIM ARTIKEL ANDA KE: seputarmakassarkita@gmail.com

Catatan: Agar artikel anda Segera Diturunkan. Sertakan Foto, ID dan Nomor kontak. Foto akan diletakkan di samping artikel anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Scroll To Top